Minggu, 29 September 2013

Lihat Tengah Halaman!

Filled under:

Cerpen By : Muhammad Tiar Bukhori



Lama tak menyentuh satupun buku. Membuatku sedikit pusing saat mulai membaca. Mataku berkunang-kunang, seperti orang mau pingsan. Posisiku terus berubah, seperti balita cacingan. Dari duduk hingga berguling sudah kucoba. Namun konsentrasi tak juga kudapatkan. Hingga rasa kantuk mulai menggoda untuk dipuaskan. Yang kupegang tak lagi buku. Bantal empuklah yang kini ada dipelukan. Kali ini tak perlu susah payah merubah posisi. Karena aku sudah berbaring secara tak sadar. Rasa nikmat, seketika menjalar saat mata mulai terpejam. Hingga akhirnya aku mulai masuk kedalam alam yang memanjakan.
Paginya aku kelimpungan, aku baru ingat ternyata ada PR minggu lalu yang belum aku kerjakan. Mau kukerjakan percuma, tidak kukerjakanpun salah besar. Daripada bingung, lebih baik aku mandi dan segera pergi ke sekolah. Selesai mandi aku masukkan buku-bukuku kedalam tas. Buku bilogi sengaja kutinggalkan. Sehabis sarapan dan pamitan. Aku keluar rumah, menuju sepedaku yang berada di garasi.
Kuarahkan sepedaku ke sekolah. Kukendarai dengan penuh doa sepanjang jalan. Udara Sejuk tak lagi kunikmati. Rasa cemas yang membuatku hilang selera. Suasana asri pedesaan pun demikian. Tak kuhiraukan sama sekali. Sapaan kawan-kawanku hanya kubalas senyuman, itupun terpaksa. Sepanjang  jalan bibirku terus berucap doa. Batinku terus mengucapkan kata-kata gak karuan. Adrenalin dan rasa cemas saling berebut untuk masuk dalam saraf otakku.
Setelah setengah jam, akhirnya aku sampai di sekolah. Kuparkir sepedaku di dekat pos satpam. Ini parkiran khusus, karena hanya aku yang membawa sepeda ke sekolah. Siswa lainnya lebih memilih naik motor, kendaraan umum, atau berjalan kaki. Setelah kukunci ban sepedaku. Aku pamit pada satpam, dan memberi imbalan atas parkir sepedaku.
Aku kembali berdoa sepanjang jalan menuju kelas. Jalan lorong seperti tak kupijak. Mataku terus memandang kedepan. Tak melihat ke sekeliling ataupun ke belakang. Hingga aku sampai di depan kelas. Dan kembali berdoa di depan pintu. Aku ucapkan “Amin” sebagai tanda akhir doaku. Aku sudah seperti peserta audisi pencarian bakat. Yang cemas menunggu giliran. Aku mulai masuk dengan kaki kananku agar lebih berkah. Aku masuk dengan doa yang masih kuucapkan dalam hati. Aku duduk di kursiku, menunggu dengan cemas bel jam pertama.
Akhirnya yang ditunggupun tiba. Bel yang dulunya merdu. Kini seperti raungan harimau yang kelaparan. Keringat mulai bercucuran, saat Pak Hendro melangkahkan kaki menuju singgasananya. Bibir mulai terasa kelu saat Ia mulai menyuruh kami mengumpulkan PR ke mejanya. Aku masih diam duduk di bangkuku. Tak ada niat sedikitpun untuk bangun dari tempat dudukku. Selesai seluruh siswa mengumpulkan PR nya. Dadaku makin berdebar, saat Pak Hendro mulai memeriksa absen kelas. Namun, tak ada ekspresi marah sedikitpun dari wajah Pak Hendro. Apa mungkin matanya melewati barisan namaku di buku absen. Tapi namaku Arisa, urutanku berada paling atas. Jadi tak mungkin Pak Hendro melewatinya. Rasa tegang semakin menguasai diriku, karena kini Pak Hendro mulai memanggil nama siswa yang tidak mengumpulkan PR. Satu persatu nama siswa tersebut dipanggil ke depan kelas. Tapi namaku belum juga disebut. Hingga Pak Hendro selesai memanggil siswa-siswa tersebut dan mulai pada sesi hukuman. Ada sedikit rasa lega di hatiku karena aku tak dihukum. Namun aku heran, kenapa Pak Hendro tak memanggil dan menghukumku. Padahal aku tak mengumpulkan PR.

Selesai menghukum, Pak Hendro mulai menjelaskan sesuatu. Sesuatu yang membosankan, tak menarik sama sekali. Beberapa kali aku menguap saking bosannya. Cara mengajar Pak Hendro memang sangat konvensional. Menjelaskan di depan kelas. Kemudian menyuruh kami mengerjakan soal latihan yang ia buat. Padahal aku tau sekali, tak satupun dari murid di kelas.  Yang mengerti apa yang ia bicarakan.
Bel tanda berakhirnya pelajaranpun berbunyi. Rasa lega kini hadir. Mata yang tadinya mengantuk kini segar kembali. Perutku lapar, saatnya ke kantin. Aku lebih suka ke kantin sendiri daripada harus bersama kawanku. Selain lebih fokus saat makan. Akupun bisa bebas mengatur waktu. Kapan aku datang dan kapan aku kembali ke kelas. Sepanjang jalan menuju kantin. Aku terus memikirkan tentang kejadian tadi. Dibilang ajaib, ini memang ajaib. Jelas-jelas aku tidak mengumpulkan PR. Tapi, Pak Hendro tak menghukumku sama sekali.
Saat sedang asik bergulat dengan pikiranku. Pak hendro memanggilku. Menyuruhku membagikan buku bilogi yang tadi dikumpulkan. Dengan sangat amat malas, aku turuti perintahnya. Padahal perutku sudah keroncongan. Tak apalah, sehabis pulang sekolah saja aku ke kantin. Perintah guru lebih penting. Meski kadang harus memaksakan diri.
Aku kembali ke kelas untuk membagikan buku biologi. Aku taruh buku milik yang lain satu persatu di meja mereka. Saat tersisa satu buku, aku terkejut. Ada sebuah buku dengan nama Arisa Rafani. Itu namaku, tapi ini bukan bukuku. Kubuka buku yang kupegang. PR nya dikerjakan secara detail. Dan nilainya 100. Tapi ini bukan tulisanku, bagaimana bisa Pak Hendro dengan mudah mempercayai ini buku milikku. Apa Pak Hendro tak memeriksa betul-betul. Sampai dengan mudahnya memberi nilai 100.  Untuk seorang Arisa yang dikenal bodoh dalam biologi.
Sebetulnya ini keuntungan untukku. Tapi perbuatan siapa ini ? siapa yang rela mengerjakan PR sebanyak ini untukku. PR nya lebih dari 5 lembar. Butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikannya. Sudahlah, nanti aku tanyakan pada Rani. Mudah-mudahan ia mengenali tulisan ini.
Sepulang sekolah aku hampiri Rani yang sepertinya sudah sangat ingin pulang.

“Rani tunggu sebentar.” Ia menengok padaku. Aku lari mendekatinya.
“Kau tau tulisan siapa ini ?” Aku tunjukkan buku biologi yang ku bawa. Rani memperhatikan  dengan seksama. Sekali lagi, aku harap dia tau.
“Antara Diaz dan Dio.” Mereka berdua kembar. Tapi hanya Dio yang aku tau pintar. Diaz lebih suka olahraga dibanding subjek lainnya.
“Oh begitu, makasih Ran. Maaf ganggu.” Rani lalu pergi. Aku pun pergi menuju lapangan basket. Tempat Diaz, kembaran Dio biasa nongkrong.

Jika benar Dio yang melakukakannya, untuk apa ia lakukan ini. Terlalu baik jika ia membuatkan PR untukku. Tapi Dio memang baik. Tapi percuma dia buatkan ini untuk orang bodoh sepertiku. Dengan otak yang sudah berasap karena memikirkan hal ini terus menerus. Aku segera pergi ke lapangan basket. Sebetulnya aku ingin cepat-cepat pulang. Tapi biarlah, daripada harus Termimpi-mimpi nanti malam.
Kupercepat langkahku menuju lapangan. Dari kejauhan sudah terdengar bunyi pantulan bola basket. Suara Diaz juga jelas terdengar.

“Diaz bisa kemari sebentar ?” aku teriak dari pinggir lapangan.
“Iya sebentar Ris.” Diaz izin pada kawan-kawannya. Dan menghampiriku.
“Ada apa Ris ? penting banget kayaknya ?” Tanya Diaz padaku.
“Ini...kamu kenal tulisan ini ?” Aku tunjukkan buku bilogi yang ku tebak milik Dio.
“Ah sepertinya ini tulisan Dio. Coba sini aku liat.” Ah...dugaan Rani benar. Diaz mengambil buku yang kutunjukkan padanya.
“Ya ini tulisan Dio. Memangnya kenapa ?” tanya Diaz padaku.
“Ah enggak. Buku ini tertinggal di kelas.” Setelah berterimakasih, aku pergi dari lapangan basket menuju perpustakaan.

Dio anaknya pintar. Sehabis pulang sekolah, biasanya Dio ke perpustakaan untuk sekedar baca-baca. Setelah sampai di perpustakaan. Mataku segera mencari keberadaan Dio. Aku menemukannya, Dio sedang asyik dengan buku-buku dihadapannya. Dia kelihatan serius. Aku sedikit tak enak mengganggunya.

“Heem...” Dio nengok, dan melihatku dengan tatapannya yang memang tajam.
“Jangan tatap aku seperti itu.” Aku sedikit takut ditatap seperti itu.
“Aku hanya aneh, untuk apa kau datang kesini ?” Tak seharusnya ia bertanya seperti itu. Toh ini perpustakaan. Siapa saja berhak datang kesini.
“Ini milikmu ?” Aku tunjukkan buku yang dari tadi membuatku penasaran.
“Bukan !” Dio mengelak, dan kembali menatap buku-buku yang ia baca.
“Kata Diaz ini tulisanmu, ayolah...tinggal mengaku saja. Bukan hal yang sulit kan ?” Dio seperti orang ketakutan. Hei...ini perbuatan mulia, bukan mencuri. Buat apa Dia takut.
“Kan banyak Ris. Yang tulisannya kayak gitu.” Kenapa Dio musti menyangkalnya. Aku heran...
“Diaz yang bilang...dia kembaranmu jadi gak mungkin salah.” Aku kembali memaksa Dio untuk mengaku. Tapi Dio malah pergi. Meninggalkanku dengan rasa penasaran.
“Hei...” Aku teriak untuk memanggilnya. Tapi Dio tetap Pergi.

Ah lupakan, toh ini bukan hal penting. Siapa saja yang melakukan ini. Aku akan sangat berterimakasih. Akupun keluar dari perpustakaan. Dan bergegas untuk pulang.
Besoknya, di sekolah aku sempat berpapasan dengan Dio. Tapi dia malah pergi tanpa melihatku. Mungkin kejadian kemarin membuatnya jadi malu. Melihatku seperti hantu. Tapi Dio memang pemalu. Tak seharusnya aku sibuk memikirkannya. Aku bingung, entah mengapa ia berbeda dengan Diaz. Diaz mudah bergaul, banyak wanita suka padanya. Seharusnya Dio juga sama. Dio tak kalah tampan. Tapi dia seperti menjauh dari pergaulan. Mungkin hanya buku yang ia anggap kawan.
Saat sedang memikirkan ada apa dengan Dio. Bu Ina memanggilku dan menyuruhku mengambil buku fisika yang kemarin dikumpulkan. Akhir-akhir ini kenapa selalu aku yang mendapat tugas ini. Ini tugas ketua kelas bukan aku. Dengan rasa kesal, aku pergi ke ruang guru. Dan mengambil buku fisika yang tertumpuk di meja Bu Ina. Kubawa buku-buku ini dan kubagikan seperti biasa. Saat kulihat buku fisikaku. Di tengah halaman ada tulisan. Semacam pesan. Tulisannya mirip seperti di buku yang kemarin.

“Lihat kembali buku kemarin. Lihat tengah halamannya !”
Itu isi pesannya dan aku segera mengambil “buku kemarin” yang dimaskud. Aku buka dan langsung kulihat halaman tengahnya. Ternyata ada tulisannya pula.
“Ini aku Dio. Aku tau pasti kamu lupa ngerjain ini. Jadi aku sengaja buat ini untukmu. Jangan tersinggung, ini hanya salah satu usahaku. Untuk...”
“Untuk jadi pacarmu.” Suara Dio mengagetkanku. Aku segera menoleh kebelakang dan berdiri.
“Ma...ma...mau ya.” Suaranya terbata-bata. Menggelikan, aku sampai nahan ketawa.
“Haha...gak seharusnya aku ngomong gini ya Ris. Yaudah lupain aja.” Dio bener-bener malu. Dia sadar gak sih. Kalau tadi tuh dia nembak aku.
“Dio mau kemana ? aku kan belum jawab.” Dio berhenti saat dia akan pergi.
“Iya aku mau kok Dio.”
Terlihat wajah senang. Saat aku jawab permintaannya tadi. Aku tau dia pasti ingin loncat kegirangan. Tapi mungkin karena malu denganku. Akhirnya dia hanya tersenyum. Dan aku sekarang lega. Sudah mengetahui siapa pemilik tulisan di buku itu. Dan pemilik hatiku kini.
SELESAI

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar disini.. Bebas!
Terserah mau komen apa aja..